Setelah sekian lama, kuistirahatkan jemariku untuk mengetik
deretan kata penyambung rindu yang tak bersua, kini otakku kembali mengirimkan
perintah kepadanya untuk menari kembali di atas keyboard laptop yang lama tak kusapa. Entah kenapa, malam ini ingin
kutuliskan sedikit cerita tuk membuka kembali album lama mengenai cerita cinta,
perjuangan, dan takdir Tuhan. Takdir Tuhan, begitu indah terajut berhiaskan
warna-warni benang yang tak terduga oleh makhluk-Nya. Allah, sang Maha
Segalanya, iya hembuskan ruh ke dalam raga ini untuk berjuang di bumi yang tak
lebih besar dari karunia-Nya bagi hamba-hambaNya. Betapa kubersyukur atas
nikmat perjuangan yang terus mengalir mengiringi jalanku untuk meraih cintaNya
yang sesungguhnya.
Umurku sudah tak muda lagi, bagiku yang kini sudah menginjak
semester 5. Banyak hal yang telah berlalu setelah tulisan terakhirku saat aku
masih berstatus mahasiswa baru (read : maba). Daun berguguran, bunga
bertebaran, awan berkejar-kejaran dan debu yang menyapa, semua telah menjadi
saksi atas perjuanganku menuntut ilmu di kota yang mengerikan ini. Hampir setengah
kehidupan Kampusku telah kulalui namun, belum sepercik pun prestasi yang
kutorehkan. Malu rasanya memang, ketika kupulang begitu besar harapan yang
orang tuaku sandarkan. Namun bagaimanapun, kaki ini akan terus berpijak mencari
limpahan berkah di bumi Allah yang anat luas ini. Banyak cerita yang sudah
kulalui disini, Ramadhan bersama orang-orang istimewa, berteman dengan
orang-orang pilihan, dan berkumpul bersama orang-orang yang heterogen. Banyak figur
yang telah lalu lalang berdiri di hadapanku, mulai dari kahima kece (eehemm),
santri yang sholeh dan sholehah (icikiwiirr), dan mahasiswa super sibuk dengan
organisasinya (ngek). Hahaha. Ya Rabbi, begitu besar karuniamu pada
hamba-hambaMu yang mau berikhtiar dan berjalan di jalanMu. Kuasa Allah memang
selalu istimewa, meninggalkan goresan sejarah yang berbeda-beda, memberi pelajaran
yang beraneka warna dan meneguhkan iman bagi yang mempercayainya. Sungguh,
ingin ku menjadi bagian orang-orang yang istimewa itu. Hemhhh. Sejujurnya, aku
belum berdamai dengan waktu. Kurasakan sulit untuk memahaminya, meski kadang
kata orang yang paling sulit dipahami adalah perempuan. Bagiku, waktu lebih
sulit dipahami dan ditakhlukkan daripada perempuan. Haha, mungkin ini karena
belum pernah kucoba menakhlukkan perempuan selain ibuku. Malaikai tanpa sayap
yang membesarkanku.
Memang, manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Namun,
adalah suatu pilihan untuk mencoba memperbaiki jalan hidup menjadi sesuatu yang
kita inginkan. Allah tak akan mengurangi rizki bagi hambaNya, tak juga akan
mematikan hambaNya sebelum semua rizkinya ia terima. That’s my mother said to
me. Aku percaya itu, dan sekarang ku sedang mencari dimana Allah akan
menurunkan rizkiku. Tak seperti permainan Pokemon Go, rizki manusia tak dapat
diteksi dengan teknologi yang ada saat ini. Semuanya hanya berdasarkan GPS yang
Allah sematkan pada hati kita masing-masing. Hati akan menjadi navigator bagi
manusia untuk menemukan jalan rizkinya. Hakekatnya, melalui rizki-rizki
tersebut Allah semaikan bibit-bibit cinta di hati manusia. Itulah, cinta Allah yang
kucari, akan kutemukan dengan perjuanganku sesuai dengan takdir yang Allah
berikan.
Laa hawla wa laa quwwata illabillah
- Tak ada usaha, kekuatan, dan upaya selain dengan kehendak
Allah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar