Jumat, 19 Agustus 2016

Secuil Bagian Perjalan


     Setelah sekian lama, kuistirahatkan jemariku untuk mengetik deretan kata penyambung rindu yang tak bersua, kini otakku kembali mengirimkan perintah kepadanya untuk menari kembali di atas keyboard laptop yang lama tak kusapa. Entah kenapa, malam ini ingin kutuliskan sedikit cerita tuk membuka kembali album lama mengenai cerita cinta, perjuangan, dan takdir Tuhan. Takdir Tuhan, begitu indah terajut berhiaskan warna-warni benang yang tak terduga oleh makhluk-Nya. Allah, sang Maha Segalanya, iya hembuskan ruh ke dalam raga ini untuk berjuang di bumi yang tak lebih besar dari karunia-Nya bagi hamba-hambaNya. Betapa kubersyukur atas nikmat perjuangan yang terus mengalir mengiringi jalanku untuk meraih cintaNya yang sesungguhnya.

     Umurku sudah tak muda lagi, bagiku yang kini sudah menginjak semester 5. Banyak hal yang telah berlalu setelah tulisan terakhirku saat aku masih berstatus mahasiswa baru (read : maba). Daun berguguran, bunga bertebaran, awan berkejar-kejaran dan debu yang menyapa, semua telah menjadi saksi atas perjuanganku menuntut ilmu di kota yang mengerikan ini. Hampir setengah kehidupan Kampusku telah kulalui namun, belum sepercik pun prestasi yang kutorehkan. Malu rasanya memang, ketika kupulang begitu besar harapan yang orang tuaku sandarkan. Namun bagaimanapun, kaki ini akan terus berpijak mencari limpahan berkah di bumi Allah yang anat luas ini. Banyak cerita yang sudah kulalui disini, Ramadhan bersama orang-orang istimewa, berteman dengan orang-orang pilihan, dan berkumpul bersama orang-orang yang heterogen. Banyak figur yang telah lalu lalang berdiri di hadapanku, mulai dari kahima kece (eehemm), santri yang sholeh dan sholehah (icikiwiirr), dan mahasiswa super sibuk dengan organisasinya (ngek). Hahaha. Ya Rabbi, begitu besar karuniamu pada hamba-hambaMu yang mau berikhtiar dan berjalan di jalanMu. Kuasa Allah memang selalu istimewa, meninggalkan goresan sejarah yang berbeda-beda, memberi pelajaran yang beraneka warna dan meneguhkan iman bagi yang mempercayainya. Sungguh, ingin ku menjadi bagian orang-orang yang istimewa itu. Hemhhh. Sejujurnya, aku belum berdamai dengan waktu. Kurasakan sulit untuk memahaminya, meski kadang kata orang yang paling sulit dipahami adalah perempuan. Bagiku, waktu lebih sulit dipahami dan ditakhlukkan daripada perempuan. Haha, mungkin ini karena belum pernah kucoba menakhlukkan perempuan selain ibuku. Malaikai tanpa sayap yang membesarkanku.

     Memang, manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Namun, adalah suatu pilihan untuk mencoba memperbaiki jalan hidup menjadi sesuatu yang kita inginkan. Allah tak akan mengurangi rizki bagi hambaNya, tak juga akan mematikan hambaNya sebelum semua rizkinya ia terima. That’s my mother said to me. Aku percaya itu, dan sekarang ku sedang mencari dimana Allah akan menurunkan rizkiku. Tak seperti permainan Pokemon Go, rizki manusia tak dapat diteksi dengan teknologi yang ada saat ini. Semuanya hanya berdasarkan GPS yang Allah sematkan pada hati kita masing-masing. Hati akan menjadi navigator bagi manusia untuk menemukan jalan rizkinya. Hakekatnya, melalui rizki-rizki tersebut Allah semaikan bibit-bibit cinta di hati manusia. Itulah, cinta Allah yang kucari, akan kutemukan dengan perjuanganku sesuai dengan takdir yang Allah berikan.

Laa hawla wa laa quwwata illabillah
- Tak ada usaha, kekuatan, dan upaya selain dengan kehendak Allah

 Kutulis dalam gelapnya kamar no. 3 asrama Mutiara, Yayasan PSDM IPTEK





Tidak ada komentar:

Posting Komentar